Kegiatan 3

Pencemaran Tanah

Tujuan Pembelajaran

  1. Melalui pengamatan, kajian pustaka, dan diskusi tentang pencemaran lingkungan akibat limbah penyamakan kulit, siswa dapat menganalisa faktor-faktor pencemaran tanah dengan tepat.
  2.  Melalui pengamatan, kajian pustaka, dan diskusi tentang pencemaran lingkungan akibat limbah penyamakan kulit, siswa dapat menjelaskan solusi penanggulangan pencemaran tanah dengan tepat.
  3. Melalui pengamatan, kajian pustaka, dan diskusi tentang pencemaran lingkungan akibat limbah penyamakan kulit, siswa dapat membuat gagasan tertulis tentang solusi pemecahan masalah pada pencemaran tanah dengan logis dan unik.

Kegiatan Pendahuluan

Manusia selalu memiliki keinginan untuk meningkatkan kesejahteraam hidupya. Adanya keinginan tersebut kemudian membuat manusia selalu berkreasi salah satunya dengan memanfaatkan kekayaan potensi lokal di daerahnya masing-masing. Hal ini memunculkan suatu ciri khas dari sebuah daerah, contohnya adalah industri penyamakan kulit khas dari Kota Kaki Gunung, yaitu Kabupaten Magetan.

Industri penyamakan kulit telah lama berdiri yaitu sejak tahun 1830 sampai sekarang dan mengalami perkembangan yang luar biasa. Tapi, tahukah kamu ada harga yang harus dibayar mahal akibat ulah oknum pelaku industri yang tidak mematuhi tata tertib?

Perhatikan Sungai Gandong yang membelah Kabupaten Magetan, bagaimana keadaannya sekarang?

Sebelum membahasnya lebih jauh, perhatikan video Gunung Merapi meletus pada tahun 2010 dibawah ini!

Video 1. Gunung Merapi Meletus
Sumber: Boestaman, 2016

Berdasarkan pengamatanmu pada video gunung meletus tersebut, identifikasilah permasalahan lingkungan apa saja yang muncul akibat adanya letusan sebuah gunung.

Lingkungan Tanah
………………………………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………………….
Lingkungan Udara
………………………………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………………….
Lingkungan Air
………………………………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………………………….

Dari video tersebut, bisa disimpulkan bahwa gunung meletus dapat menjadi penyebab terjadinya pencemaran lingkungan secara alami. Apakah pencemaran hanya berasal dari faktor alam saja? Mari kita lanjutkan pembelajaran dengan memahami materi berikut ini!

Semangat!

 

Materi Pencemaran Tanah

Definisi dan Faktor Pencemaran Lingkungan

  • Menurut UU RI Nomor 32 Tahun 2009, pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
  • Menurut Hoefnagels (2012), pencemaran lingkungan merupakan perubahan komponen secara kimia, fisika, maupun biologi yang ada dalam lingkungan yang kemudian akan menimbulkan bahaya untuk organisme makhluk hidup.

Pencemaran atau bisa juga disebut dengan polusi telah menyebabkan penurunan kualitas tanah, udara, dan air serta mengancam biodiversitas di seluruh dunia. Faktor yang mencemari lingkungan sampai mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup disebut dengan Polutan. Suatu zat agar dapat dikatakan sebagai polutan, maka zat tersebut haruslah memenuhi kriteria sebegai beruikut :

  • kadarnya melebihi batas kadar normal atau diambang batas;
  • berada pada waktu yang tidak tepat;
  • berada pada tempat yang tidak semestinya.

Polutan dibagi menjadi dua jenis, yaitu polutan alami dan polutan buatan.

Polutan Alami

Polutan alami merupakan polutan yang berasal dari kejadian yang alami di alam. Contohnya adalah bencana alam gunung meletus, banjir, tsunami, gempa, dan lain sebagainya. Ketika terjadi bencana alam, maka akan ada material-material yang tidak diinginkan memasuki lingkungan kita. Material tersebut bisa berupa asap, debu, sampah, bahkan zat-zat kimia seperti kebocoran gas alam yang muncul ketika terjadi sebuah bencana alam. Selain dari bencana alam, polutan alami juga dapat berasal dari kejadian alam lain seperti geyser, gas hasil pencernaan makhluk hidup yang mengandung metana, debu, garam laut, peluruhan radioaktif, dan petir.

Gambar 1. Gunung Meletus sebagai Sumber Polutan Alami
Sumber: Lestari dkk, 2015

Polutan Buatan

Polutan buatan merupakan polutan yang terbentuk dan berasal dari aktivitas manusia. Contoh dari aktivitas manusia adalah industri, pertanian, dan bahkan berasal dari aktivitas rumah tangga. Pada daerah industri, polutan berasal dari limbah-limbah industri yang dibuang sembarangan di lingkungan. Pada daerah persawahan atau perkebunan, polutan berasal dari pestisida yang diberikan terus-menerus kepada tumbuhan. Pada daerah perumahan penduduk, polutan berasal dari limbah rumah tangga seperti plastik dan deterjen.

Limbah merupakan zat buangan dari aktivitas manusia. Limbah ada tiga macam: limbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Parameter pecemaran lingkungan dapat dilihat dari aspek fisika (warna, bau, rasa, dll), aspek kimia (pH, kandungan logam, kadar CO, dll), dan aspek biologi (hilangnya organisme tertentu).

Gambar 2. Polutan Buatan yang Mencemari Tanah dan Sungai
Sumber: Aziz, 2018

Pencemaran Tanah dan Hubungannya dengan Idustri Penyamakan Kulit di Kabupaten Magetan

Ketika suatu zat berbahaya dan beracun mencemari permukaan tanah, maka zat tersebut dapat menguap, tersapu air hujan, dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian mengendap sebagai zat kimia yang dapat meracuni tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung pada kehidupan manusia jika bersentuhan dan dapat pula mencemari air tanah dan udara di atasnya.

Pencemaran tanah juga terjadi di Kabupaten Magetan, yaitu akibat adanya industri penyamakan kulit.

Pernahkah kamu mendengar tentang industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan? Mari simak ulasan berikut ini! (nantinya akan diberikan sebuah link yang akan terhubung dengan post tentang sejarah industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan).

Industri penyamakan kulit merupakan proses pengolahan kulit hewan dengan menggunakan air dan bahan kimia dalam jumlah yang besar, sehingga menghasilkan kulit jadi yang siap digunakan untuk membuat produk-produk seperti sepatu, dompet, ikat pinggang, jok kursi dan lain sebagainya. Industri penyamakan kulit telah menjadi potensi lokal Kabupaten Magetan karena mampu menghasilkan keuntungan yang banyak bagi masyarakat.

Namun, industri penyamakan kulit tersebut lama-kelamaan semakin tidak terkendali akibat banyaknya pelaku industri yang tidak mematuhi tata tertib. Pada akhirnya limbah yang dihasilkan mencemari lingkungan, salah satunya adalah tanah.

Faktor Pencemaran Tanah dan Hubungannya dengan Idustri Penyamakan Kulit di Kabupaten Magetan

Penyebab umum pencemaran tanah adalah sampah plastik dan pestisida. Sampah plastik sangat sulit diuraikan oleh bakteri pengurai dan akan tetap utuh hingga 300 tahun yang akan
datang, sehingga masuk ke dalam kategori sampah non-biodegradable. Sampah yang dapat dengan cepat diuraikan maka akan masuk ke dalam sampah biodegradable. Sementara sampah pestisida akan mengendap di tanah menyebabkan tanah mengalami kerusakan pada unsur haranya. Pestisida juga dapat menguap atau tersapu oleh air dan masuk ke dalam ekosistem air yang tentu saja akan berbahaya bagi kelangsungan makhluk hidup.

Gambar 3. Jenis-jenis Sampah
Sumber: Anonim, 2013

Pencemaran tanah di Kabupaten Magetan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, berasal dari adanya kegiatan industri penyamakan kulit. Bahan pencemar yang paling utama pada limbah penyamakan kulit adalah Amonia (NH3) dan Krom (Cr). Amoniak bersifat racun bagi mayoritas ikan dan akan teroksidasi secara biologis oleh mikroorganisme menjadi nitrit yang berbahaya bagi manusia. Krom merupakan sejenis logam berat dan masuk dalam kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Garam Krom (Cr3+) merupakan bahan utama dalam industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan.

Gambar 4. Senyawa Amonia
Sumber: Anonim, 2015

Beberapa jenis limbah padat yang mengandung krom ialah limbah padat krom shaving, crust dyeing/undyeing dan lumpur IPAL. Limbah shaving adalah limbah padat kulit tersamak yang mempunyai volume relatif besar, ringan, tidak mudah rusak oleh perlakuan fisik dan kimia serta tidak mudah terdegradasi oleh mikroba. Limbah shaving jumlahnya sangat banyak pada sekali proses penyamakan kulit. Limbah ini sangat berbahaya karena mengandung Krom yang diketahui merupakan bahan yang bersifat karsinogenik untuk semua jenis makhluk hidup terutama manusia.

Gambar 5. Proses Shaving Menghasilkan Limbah
Sumber: Dokumentasi Penulis, 2018

Dampak Pencemaran Tanah Akibat Idustri Penyamakan Kulit di Kabupaten Magetan

Dampak pencemaran tanah yang dirasakan warga Kabupaten Magetan tentu saja adalah tidak suburnya tanah di sepanjang sungai tercemar. Tanah di sekitar sungai tercemar memiliki tekstur yang lembek dan berbau busuk. Tumbuhan ada yang tumbuh di sekitar sungai, tetapi terlihat kurang sehat. Selain tumbuhan, semut, cacing, dan serangga juga tidak ditemukan hidup di tanah dengan tekstur lembek ini sehingga menambah waktu proses penguraian sampah-sampah lainnya yang ada di tanah.

Bagi manusia, pencemaran tanah ini berdampak langsung pada para petani yang tidak bisa lagi menggunakan air sungai untuk mengairi sawah mereka. Hampir sebagian besar petani di Kabupaten Magetan baik yang di kota maupun di desa bergantung pada air sungai untuk mengaliri persawahan mereka. Masuknya air limbah penyamakan ke sungai, salah satunya adalah sungai terbesar di Magetan yaitu Sungai Gandong, membuat para petani tidak berani lagi memakai air sungai untuk mengairi sawah.

Air limbah dapat mengakibatkan pencemaran tanah di daerah pertanian, selain itu limbah padat berupa sisa bulu dan daging yang ikut dibuang di air akan mengendap di dalam tanah persawahan menyebabkan pembusukan dan masalah-masalah lain seperti timbulnya berbagai macam bibit penyakit.

Gambar 6. Pencemaran Akibat Limbah Penyamakan Kulit
Sumber: Redaksiski Suara Kumandang, 2018

Solusi Pencemaran Tanah Akibat Idustri Penyamakan Kulit di Kabupaten Magetan

Pencemaran tanah secara umum dapat diatasi dengan melakukan hal hal sebagai berikut:

  1. Remediasi merupakan kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan eksitu (atau off-site).
    Remediasi insitu dilakukan dengan cara membersihkan permukaan tanah secara langsung di tempat tercemar. Biasanya dilakukan dengan injeksi dan bioremediasi.
    Remediasi eksitu dilakukan dengan cara membawa tanah tercemar ke daerah lain yang memiliki peralatan untuk dilakukan pembersihan. Jika tanah sudah bersih, maka tanah dikembalikan ke tempat asal.
  2. Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

Salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (VAM). Jamur VAM dapat berperan langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Jamur tersebut dapat berperan langsung karena kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah. Jamur tersebut tidak dapat berperan langsung karena dapat menstimulus pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain, seperti bakteri tertentu, jamur, dan sebagainya.

Sumber utama limbah pada pencemaran tanah di Kabupaten Magetan adalah limbah industri penyamakan kulit. Solusi dari limbah tersebut tentu saja adalah pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Kabupaten Magetan melalui UPT Industri dan Produk Kulit Magetan telah membangun IPAL di dekat daerah terbesar industri kulit yaitu Desa Ringinagung. (memberikan link menuju postingan IPAL Industri Kulit Magetan).

Pengolahan melalui IPAL ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu primary treatment (pengolahan pertama), secondary treatment (pengolahan kedua), dan tertiary treatment (pengolahan lanjutan). Primary treatment (pengolahan pertama) bertujuan untuk memisahkan zat padat dan zat cair dengan menggunakan filter (saringan) dan bak sedimentasi. Secondary treatment (pengolahan kedua) bertujuan untuk mengoagulasikan, menghilangkan koloid, dan menstabilisasikan zat organik dalam limbah. Tertiary treatment (pengolahan lanjutan) berfungsi penghilangan nutrisi atau unsur hara, khususnya nitrat dan fosfat, serta penambahan klor untuk memusnahkan mikroorganisme patogen.

Gambar 8. Bak Pengendapan di IPAL Magetan
Sumber: Dokumentasi Penulis, 2018

Selain IPAL, untuk limbah padat yang mengandung Krom atau jenis logam berat lainnya harus dibuatkan landfill. Secure landfill merupakan metode pembuangan limbah B3 dengan cara menimbun limbah B3 yang sudah tersolidifikasi atau dimasukkan ke dalam drum. Tujuan dibangunnya secure landfill adalah agar limbah B3 tersebut tidak keluar mencemari air tanah dan lingkungan sekitar. Agar tidak mencemari air tanah, dasar secure landfill dengan permukaan air tanah harus berjarak minimal 3 meter. Secure landfill dilengkapi dengan dua bahan pelapis yang kedap air, tujuannya agar limbah tidak merembes ke air tanah.

Gambar 9. Ilustrasi Bioreactor Landfill
Sumber: Anonim, 2018

Industri penyamakan kulit di Kabupaten Magetan sudah memiliki IPAL, lalu kenapa ya pencemaran tanah akibat limbah penyamakan tetap terjadi? Lanjutkan kegiatan belajar kalian dengan melakukan diskusi kelompok dibawah ini!

Kegiatan Siswa

Orientasi pada Masalah

Setelah membaca dan memahami materi tentang pencemaran tanah, ayo kita identifikasi masalah dibawah ini!

TRIBUNJATIM.COM,MAGETAN – Pencemaran dan kerusakan lingkungan yang diduga karena limbah home industri kulit di Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan sudah terjadi bertahun-tahun.

Tapi anehnya, hingga saat ini masih belum mendapat perhatian serius dari Pemkab setempat. Aliran sungai yang mengalir di desa desa tetangga rusak karena airnya mengandung limbah Bahan Berbahaya dan Beracun(B3). Padahal hujan masih sering turun dengan lebatnya, tapi buih-buih putih dan keruh itu juga tidak bisa hilang.

“Justru musim penghujan ini, limbah industri itu langsung dibuang ke sungai. Karena setiap musim hujan sepanjang aliran sungai yang melewati desa ini airnya putih berbuih,” kata Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan Jumiran Hadi Diprodjo kepada Surya, Jumat (9/2/2018).

Menurutnya, sudah bertahun-tahun warga desanya sudah tidak lagi menggunakan sungai Beringin yang melintas di desanya itu untuk aktivitas pertanian dan perternakan.

“Sekarang warga juga tidak pernah lagi memandikan ternaknya di sungai Beringin, juga mengairi tanah persawahan atau kebun mereka. Karena airnya sangat berbahaya, kalau bersentuhan langsung dengan kulit manusia bisa gatal-gatal,” jelas Jumiran. Menurut Jumiran, kasus pencemaran sepanjang sungai Beringin akibat pembuangan limbah kimiawi B3 dari home industri kulit Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Magetan itu sudah lebih lima tahun dilaporkan pihak desa dan warga ke Pemkab Magetan. Tapi hingga kini pencemaran aliran sungai itu semakin bertambah.

LINK

Orientasi Siswa untuk Belajar

Artikel di atas merupakan sebuah masalah yang berkaitan dengan pencemaran tanah di Kabupaten Magetan berkaitan dengan adanya aktivitas industri penyamakan kulit, yang akan dipecahkan bersama-sama pada pertemuan kali ini.

Investigasi Kelompok

  • Bentuklah kelompok masing-masing beranggotakan 4-5 orang siswa sesuai arahan guru.
  • Bacalah artikel diatas dengan seksama dan diskusikan hal-hal berikut ini dengan seluruh anggota kelompokmu.
  1. Masalah-masalah apa saja yang dapat kalian amati dari artikel di atas? Adakah pencemaran tanah yang dapat terjadi akibat masalah di atas? Tuliskan beserta penjelasan masing-masing masalah yang kalian temukan!
  2. Sebutkan minimal 3 solusi logis yang menurut kalian bisa dilakukan agar pencemaran tanah tersebut dapat berkurang atau bahkan terpecahkan!
  3. Dari solusi-solusi yang telah kalian sebutkan di atas, manakah solusi yang menurut kalian paling logis dan ideal untuk memecahkan masalah pencemaran tanah di Kabupaten Magetan?
  4. Jika solusi pada nomor 3 yang kalian pilih benar-benar akan diterapkan oleh pemerintah, bagaimana kekurangan dan kelebihan dari solusi tersebut? (berkaitan dengan biaya, waktu, dan tenaga).

Mengembangkan dan Mempresentasikan Hasil

  • Tuliskan hasil diskusimu pada tabel di bawah ini. Agar diskusi kalian berjalan baik dan menghasilkan tulisan yang logis, gunakan modul ini sebagai sumber belajar utama. Kalian boleh menggunakan sumber lain untuk belajar, misalkan Google dan Buku Siswa (Buku Paket).
  • Setelah itu, presentasikanlah hasil diskusi yang telah kalian kerjakan dengan tertib dan bertanggung jawab.

Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah

  • Pada saat melakukan presentasi, diskusikan bersama kelompok lain tentang kesulitan yang akan dihadapi dalam melaksanakan solusi pemecahan masalah! Mintalah saran dan masukan dari teman-temanmu.

Kegiatan Individu

Kegiatan 4R yang bisa kalian lakukan di rumah dan sekolah agar mengurangi polutan tanah :

Reduce : mengurangi sampah plastik, bawalah bekal dari rumah dengan memakai kotak makan yang dapat digunakan berkali-kali.
Reuse : lebih baik membeli pulpen dan pensil yang dapat dilakukan isi ulang (tinta dan karbon).
Recycle : membuat bubur kertas untuk dijadikan tempat pensil serbaguna.
Repair : perbaikilah peralatan sekolahmu yang mungkin masih bisa diperbaiki, jangan buru-buru untuk mengganti dengan yang baru.

Glosarium

  • Pencemaran lingkungan : masuknya zat atau komponen ke dalam suatu lingkungan yang menyebabkan rusaknya lingkungan baik secara fisika, kimia, maupun biologi.
  • Pencemaran tanah : masuknya bahan kimia berbahaya buatan manusia yang merusak sifat alami tanah.
  • Polutan alami : zat pencemar yang berasal dari kejadian alam atau bencana alam.
  • Polutan buatan : zat pencemar yang berasal dari limbah aktivitas manusia.
  • Parameter pencemaran fisika : parameter pencemaran yang terdiri dari warna, tekstur, bau, dan rasa.
  • Parameter pencemaran kimia : parameter pencemaran yang terdiri dari pH, BOD, dan COD.
  • Parameter pencemaran biologi : parameter pencemaran yang dilihat dari ada atau tidaknya makhluk hidup pada lingkungan tersebut.
  • Sampah biodegradable : sampah yang mudah diuraikan oleh bakteri pengurai.
  • Sampah non biodegradable : sampah yang sangat sulit dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk diuraikan oleh bakteri pengurai.
  • Penyamakan kulit : proses pengolahan kulit hewan dengan menggunakan air dan bahan kimia dalam jumlah yang besar, sehingga menghasilkan kulit jadi yang siap digunakan untuk membuat produk-produk seperti sepatu, dompet, ikat pinggang, jok kursi dan lain sebagainya.
  • Amonia : salah satu bahan B3 dan merupakan limbah utama dari proses penyamakan kulit.
  • Krom : salah satu bahan B3 dan merupakan limbah utama dari proses penyamakan kulit dan bersifat karsinogenik.
  • Limbah : bahan buangan dari proses industri.
  • B3 : Bahan Berbahaya dan Beracun.
  • IPAL : Instalasi Pengolahan Air Limbah.
  • 4R : Reduce, Reuse, Recycle, dan Repair.
  • Karsinogenik : bersifat karsinogen atau dapat menyebabkan kanker.
  • Remediasi in situ : kegiatan membersihkan permukaan tanah yang tercemar secara langsung di tempat tercemar.
  • Remediasi exsitu : kegiatan membersihkan permukaan tanah yang tercemar tidak secara langsung di tempat tercemar.
  • Bioremediasi : kegiatan membersihkan permukaan tanah yang tercemar dengan cara menambahkan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur untuk melakukan perbaikan secara alami.
  • Primary treatment : tahap pertama pengolahan limbah melalui IPAL yang bertujuan untuk memisahkan zat padat dan zat cair dengan menggunakan filter (saringan) dan bak sedimentasi.
  • Secondary treatment : tahap kedua pengolahan limbah melalui IPAL yang bertujuan untuk mengoagulasikan, menghilangkan koloid, dan menstabilisasikan zat organik dalam limbah.
  • Tertiary treatment : tahap lanjutan pengolahan limbah melalui IPAL yang berfungsi penghilangan nutrisi atau unsur hara, khususnya nitrat dan fosfat, serta penambahan klor untuk memusnahkan mikroorganisme patogen.

Daftar Pustaka

Anonim. (2018). Bioreactor Landfill. Retrieved from https://www.como.gov/utilities/solidwaste/bioreactor-landfill/

Anonim. (2015). Amonia. Retrieved from http://thedramascript.blogspot.com/2015/11/amonia.html

Anonim. (2013). Pengelolaan Sampah Organik dan Anorganik. Retrieved from http://sdnkudu2kts.blogspot.com/2013/02/pengelolaan-sampah-organik-dan-anorganik.html

Aziz, N. (2018). Gara-gara sampah plastik, pegiat lingkungan ingin gugat Indonesia di Mahkamah Internasional. Retrieved from https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43131240

Boestaman, A. (2016). Erupsi Merapi 2010 (Kita Pernah Jadi Jurnalis). Retrieved from https://www.youtube.com/watch?v=zBV9nZiE0UQ

Hoefnagels, M. (2012). Biology: Concepts and Investigations Second Edition. New York: McGraw-Hill.

Irianto, I. K. (2015). Bahan Ajar Pencemaran Lingkungan. Denpasar: Unwar Press

Kemendikbud. (2017). Ilmu Pengetahuan Alam Kelas VII Semester 2. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Lestari, M. A., Kusumadewi, K., Ayuningtias, Y., Azzahra, N., & Yusriyani, F. N. (2015). Sumber Pencemar Udara Alami & Anthropogenik. Retrieved from https://airformation.weebly.com/sumber-pencemar-udara/sumber-pencemar-udara

Murti, R. S., Purwanti, C. M. H., & Suyatini. (2013). Adsorpsi Amonia dari Limbah Cair Industri Penyamakan Kulit Menggunakan Abu Terbang Bagas. e-journal Kementrian Perindustrian, 29 (2). Retrieved from http://ejournal.kemenperin.go.id/mkkp/article/view/195

Redaksiski. (2018). Ini Upaya Pemerintah Kabupaten Magetan Mengenai Limbah di Sungai Gandong. Retrieved from https://suarakumandang.com/ini-upaya-pemerintah-kabupaten-magetan-mengenai-limbah-di-sungai-gandong/

Sugiarto, T. & Ismawati, E. (2008). Ilmu pengetahuan alam 1 : untuk SMP/MTs/ kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Sumampouw, O. J. (2015). Diktat Pencemaran Lingkungan. Artikel. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/278243063

Suparno, O., Cobvington, A. D., & Evans, C. S. (2010). Teknologi Baru Penyamakan Kulit Ramah Lingkungan: Penyamakan Kombinasi Menggunakan Penyamak Nabati, Naftol dan Oksazolidin. Jurnal Teknik Industri Pertanian, 18 (2). Retrieved from journal.ipb.ac.id/index.php/jurnaltin/article/view/4752/3223

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Wasis & Irianto, S. Y. (2008). Ilmu Pengetahuan Alam SMP dan MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *